Management Perspectives

Powerless Leadership – 5 Ways for Becoming Today’s Great Leaders

Kepimpinan (leadership) masa kini telah berevolusi mengikuti perkembangan situasi dan perubahan cara pandang dan nilai-nilai yang dianut dari pengikutnya (followership), tidak terkecuali dalam dunia bisnis. Dalam era tanpa batas (boundaryless) dimana organisasi semakin terhubung (interconnected) dengan organisasi lain, pemimpin dituntut untuk dapat mengatur konstituen lainnya (yang tentunya sulit dikontrol). Dalam era internet dimana semua orang setiap saat dapat menanyakan “professor google”, informasi bukanlah sumber kekuatan (source of power) seorang pemimpin untuk mengatur pengikutnya. Cara-cara kohersif (misalnya dengan memberi hukuman pada pekerja jika tidak bisa dikontrol) juga tidak lagi efektif karena peraturan ketenagakerjaan yang semakin ketat. Praktik “bajak-membajak” dalam war for talent pun semakin lumrah terjadi. Follower dapat memutuskan kapanpun meninggalkan leadernya, berpindah ke perusahaan lainnya, jika merasa “tidak cocok” dengan pimpinannya. Pemimpin semakin powerless, namun tuntutan semakin tinggi. For ordinary leaders, this new reality will be seen as damnable constraint on their effectiveness; but others see it as a huge opportunity to become great leaders. Great leaders will adapt, they will learn new ways to lead others.

Contoh yang sangat menarik saya temukan ketika menjadi konsultan bagi bandara-bandara di Indonesia. Untuk mewujudkan visi menjadi “world class airport”, pemimpin bandara tidak hanya harus mentransform “the way” mereka melakukan pelayanannya, namun juga harus mampu mentransform konstituen lainnya yang ada di bandara (airline, imigrasi, provider transportasi, pemda, dll.) untuk bergerak bersama-sama menyediakan pelayanan berstandar kelas dunia. Their success depends increasingly on influencing other constituencies they cannot control with money or force. Great leader sangat dibutuhkan “to make it happen”.

Contoh pemimpin sukses di Indonesia yang saat ini cukup banyak dibicarakan adalah Tri Rismaharini, Walikota Surabaya. Sebagai wanita pertama yang terpilih langsung dalam sejarah pilkada era reformasi, beliau mampu melakukan “turn around” kota yang “bermasalah” menjadi salah satu role model bagi kota-kota lainnya di Indonesia. Kejujuran beliau untuk mengatakan “brutal facts of reality”, keberanian beliau untuk menentang siapapun yang menghalangi misinya memperbaiki kota Surabaya, dan kegigihan beliau untuk “work extra miles” terjun langsung membenahi permasalahan di setiap sudut kota (dimana walikota lainnya memilih kenyamanan dalam ruang kantornya yang ber-ac) telah berhasil meraih simpati warganya sehingga “bersedia” menjadi followernya.

Dalam skala kepimpinan yang lebih tinggi, mari kita lihat Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal Ahok. Beliau merupakan etnis Tionghoa dan orang Kristen Protestan pertama yang mengemban amanat tersebut. Tidak hanya berasal dari “minoritas”, Ahok juga semakin powerless karena tidak memiliki “backing” yang kuat di legislatif sejak ia memutuskan keluar dari partai Gerindra. Beliau bukanlah tipe pemimpin “biasa” yang mengutamakan tepasalira, tenggang rasa, dll, beliau suka ceplas ceplos dan kata-katanya bahkan memancing kemarahan orang lain (read: dprd). Namun Ahok membalikkan “teori” kepemimpinan yang ada, beliau berhasil menjadi salah satu pemimpin yang memiliki followers terbanyak di Indonesia (berdasarkan data hasil analisis Topsy.com, popularitas Ahok bahkan melampaui Presiden Jokowi). Beliau memiliki sifat kepemimpinan hebat: paham akan kebenaran, bicara akan kebenaran, dan berjuang demi kebenaran. Beliau berani “berhadap-hadapan” dengan legislatif (yang lebih powerful karena dapat “melengserkannya”) untuk “kebenaran” dalam penyusunan anggaran. Pejabat lain mungkin akan berfikir berkali-kali untuk melakukan hal yang sama.

Ok, mungkin anda akan berfikir beliau-beliau memiliki structural advantages sebagai walikota maupun gubernur. Mari kita lihat contoh lebih ekstrem untuk pemimpin yang dapat menggerakkan orang lain tanpa uang maupun kekuasaan: Joanne Liu, international president of Médecins Sans Frontières (atau sering disebut: Doctors Without Borders) (contoh local leader yang bener-bener great seperti ini belum nemu euy :p). Dia mampu menggerakkan ribuan dokter, perawat dan yang lainnya sebagai volunteers untuk memberikan bantuan ke banyak tempat, bahkan ke sudut dunia yang paling bahaya sekalipun. Risiko diserang bahkan diculik oleh penduduk local tidak menciutkan nyali mereka, namun followernya terus bergerak sebagai volunteers untuk “make it happen”.

Visi atau misi yang baik saja tidak cukup, terutama dalam situasi saat ini. Visi tersebut perlu diuji oleh followernya, baik oleh orang-orang dalam suatu organisasi maupun konstituen lainnya yang terkait. Visi yang efektif adalah visi yang dapat dipahami dan disetujui oleh follower sehingga menjadi shared vision yang dapat menggerakkan orang-orang dalam koridor yang sama untuk mencapai keinginan bersama. Di awal pencetusan visi, mungkin banyak orang akan melakukan penolakan, terutama jika predecessor anda merupakan pemimpin hebat yang diterima seluruh orang. Contoh yang menarik ketika Jeffrey R. Immelt ditunjuk menjadi suksesor sang legenda Jack Welch, CEO General Electrics, di tahun 2000. Di awal kepemimpinannya, orang-orang menganggap visi yang dituliskan oleh Jack Welch tidak perlu diubah karena mereka menganggap visi tersebut adalah yang terbaik. Tepat empat hari setelah menjadi pemimpin, beliau harus dihadapkan dengan serangan teroris di AS yang menyebabkan guncangan hebat pada bisnis insurancenya. Di sini, kepemimpinan Immelt diuji. Dia harus berhasil meyakinkan para karyawannya, sementara situasi bisnis tidak menguntungkannya. Thus, Immelt berhasil mempertahankan kepemimpinannya hingga dipercaya oleh Presiden Obama sebagai penasehat ekonominya. Beliau tercatat dalam Time magazine’s 100 most influential people in the world in 2009.

Masih banyak lagi contoh orang-orang powerless yang menjadi pemimpin hebat, meskipun situasi tidak menguntungkan mereka. Pemimpin hebat tidak hanya muncul dari dalam organisasi formal (seperti: pemerintahan, perusahaan, dll.), namun juga dari berbagai profesi (seperti: atlet, pelatih, artis, dll.). Namun benang merahnya adalah mereka berhasil “mempengaruhi” orang-orang dan secara sukarela menjadi pengikutnya, meskipun tanpa bayaran maupun ancaman. Kepintaran, charisma bahkan kekuasaan tidak cukup (tidak efektif lagi) bagi seorang pemimpin agar sukses.

Great leaders must adapt, learn new ways to lead others:

  1. Leaders must define and share a noble purpose that moved followers to act as well – encompassing the way to glory
  2. Leaders must speak the truth and live by the truth – enlivening the true principles, the way that others will immitate
  3. Leaders must initiate the ways for others to act effectively – encouraging others to follow the way
  4. Leaders must behave followers as “volunteers” and “leaders”  – escalating a mutual respect to be able walk side by side and empowering others to be able walk further
  5. Leaders must run extra miles to make it happen – effectuating everyone glory through the “up and down” of the journey

Satu hal yang mungkin masih dapat melegakan anda, atau semua orang yang ingin menjadi pemimpin: people still want to be led. Orang-orang sadar bahwa tidak ada satupun kelompok atau organisasi akan berhasil jika tidak ada seseorang in charge. Mereka butuh sosok yang dapat “menggerakkan hati dan pikiran” sehingga mereka “rela bergerak” demi tercapainya kondisi yang diinginkan bersama.

Meskipun menjadi pemimpin saat ini lebih challenging, pemimpin hebat akan dapat beradaptasi. Menjadi pemimpin hebat bukanlah karena anda memiliki posisi puncak dalam suatu kelompok atau organisasi, namun karena pengakuan dari setiap orang atas pembuktian yang anda lakukan dalam setiap kesempatan. To become a great leader, you must earn your great leadership every day. Be the kind of leader that people would follow voluntarily, even if you are powerless…

 

Remarkable Strategy, Excellent Executions, Great Results…

Roy Nelson Simanjuntak

Business & Management Consultant

rn_simanjuntak@yahoo.com

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s