Business Perspectives

Sustaining Family Business, Unlocking The Full Potential

Tidak sedikit Bisnis Keluarga mengalami pasang-surut (bahkan hingga bangkrut/ bubar) akibat ketidakseimbangan antara kepentingan Keluarga, Bisnis, dan Pemilik. Namun demikian, banyak juga bisnis yang dijalankan oleh keluarga sangat berhasil dan menjadi world’s largest family-run businesses, seperti: Walmart (United States), Samsung Group (Korea), Tata Group (India), and Foxconn (Taiwan). Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Bagaimana dapat memastikan Bisnis Keluarga sustain terhadap dinamika yang ada? Bagaimana dapat men-transform Bisnis Keluarga menjadi larger family-run business?

What is Family Business?

Family Business atau Bisnis Keluarga merupakan organisasi bersifat komersial dimana kepemilikan masih didominasi oleh suatu keluarga (atau generasi-generasi penerusnya) dan pengambilan keputusan (decision-making) dilakukan atau dipengaruhi oleh individu yang memiliki hubungan darah atau perkawinan (keluarga). Walaupun Bisnis Keluarga terkadang juga dikelola oleh professional yang bukan merupakan anggota keluarga, namun trah keluarga tetap memiliki otoritas yang lebih tinggi dari non anggota keluarga. Penempatan dua atau lebih anggota keluarga dalam tim manajemen ditujukan untuk memastikan keputusan-keputusan stratejik atau hal-hal yang dianggap penting tidak dapat luput dari pengawasan keluarga.

Jika ditelaah lebih dalam, terdapat 3 elemen utama dalam Bisnis Keluarga, yang mana ketiga elemen tersebut seringkali beririsan: Family, Business, dan Ownership.Keluarga dapat menjadi manajer bisnis sekaligus pemilik bisnis, tetapi terkadang pemilik bisnis dapat saja menempatkan anggota keluarga lainnya untuk menjadi manajer bisnis (misalnya dari turunan paman, bibi, atau keluarga istri/ suami anak), tanpa harus memiliki saham kepemilikan.

Advantages and Disadvantages of Family Business

Engagement dan Trust merupakan dua modal/ kekuatan utama Bisnis Keluarga yang tidak dapat dimiliki/ disamai oleh entitas bisnis biasa. Bisnis yang dibesarkan sendiri oleh keluarga menciptakan keterikatan yang sangat kuat sehingga keluarga mau meluangkan waktu dan pikirannya secara penuh untuk keberhasilan bisnis. Anggota manajemen yang notabene memiliki hubungan darah atau perkawinan menyebabkan leader dapat mempercayai sepenuhnya “dapur bisnis” tanpa khawatir adanya “pengkhianatan”.

Namun dibalik kelebihan tersebut, Bisnis Keluarga juga menyimpan bahaya laten yang mana jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi batu sandungan bagi bisnis untuk berkembang atau sekedar bertahan (sustain). Emotional issues dapat berdampak pada bias (tidak objektif) keputusan-keputusan yang diambil. Trust yang sangat tinggi terkadang mengenyampingkan good governance yang seharusnya dilakukan oleh anggota manajemen. Persaingan yang tidak sehat antara “putra mahkota” juga kerap menjadi penyebab bisnis keluarga terpuruk. Survei (Lansberg,1999) menunjukkan “survival rate” Bisnis Keluarga hingga generasi kedua hanya 30% saja, diantaranya disebabkan oleh perencanaan suksesi yang gagal!

Revitalizing the Family Business Management

Agar dapat “survive”, pebisnis harus dapat mengelola 5 critical elements dalam mengelola Bisnis Keluarga, sebagai berikut:

1. Family Members Involvement

Keterlibatan keluarga dalam perusahaan harus diatur secara efektif agar dapat memberikan value yang optimal pada perusahaan. Anggota keluarga yang terlibat dalam manajemen diusahakan memiliki kapasitas dan kapabilitas serta pengalaman yang memadai untuk mengelola perusahaan. Ketegasan pemimpin untuk menolak sanak-saudara yang “tidak layak” diperlukan agar produktifitas dapat dipertahankan. Di sisi lain, anggota keluarga yang duduk di dewan komisioner harus paham cakupan dan mekanisme kontrol sehingga dapat menempatkan diri dengan semestinya dan tidak terlalu dalam mencampuri operasional perusahaan.

2. Resource Management

Pada tahap awal (generasi pertama), umumnya saham kepemilikan mayoritas dimiliki langsung oleh Pemilik sekaligus Founder perusahaan sehingga proses pengambilan keputusan relatif tidak bermasalah. Namun pada saat saham kepemilikan telah didistribusikan kepada generasi berikutnya, permasalahan pun akan timbul. Struktur dan distribusi saham/ modal antar anggota keluarga yang tidak diatur secara jelas akan menjadi pemicu perselisihan. Di samping itu, Perusahaan Keluarga juga harus menyusun kebijakan dan mekanisme penambahan, pengurangan, atau withdrawal saham/ modal keluarga jika suatu saat salah satu anggota keluarga tidak ingin terlibat dalam perusahaan.

3. Succession Planning

Kegagalan Perencanaan Suksesi merupakan salah satu faktor utama penyebab Perusahaan Keluarga tidak mampu bertahan (sustain). Lemahnya leadership dan kurangnya kompetensi penerus pucuk pimpinan akan menyebabkan perusahaan goyah. Penolakan karyawan terhadap pemimpin baru (meskipun tidak dinyatakan secara terbuka) ditambah know-how yang tidak komprehensif mengenai seluk beluk perusahaan akan menyebabkan “bom waktu” sewaktu-waktu akan meledak. Untuk itu, perusahaan harus mampu menyiapkan next leader secara efektif hingga waktunya siap menjadi pemimpin sesungguhnya. Perusahaan harus berani mengambil sikap yang tegas jika next leader dinilai belum siap dan “terpaksa” harus diteruskan oleh orang yang lebih kompeten untuk sementara waktu. Pada titik ekstrem lain, ketika kandidat next leader yang memenuhi persyaratan lebih dari 1 orang, maka pemimpin saat ini harus menyusun mekanisme yang objektif dalam penentuan suksesornya. Mekanisme suksesi yang secara transparan disampaikan kepada setiap kandidat akan menimbulkan “healthy competition” dan akan berdampak kemajuan bagi perusahaan.

4. Decision-Making

Dalam Bisnis Keluarga, pengambilan keputusan (decision-making) umumnya dilakukan atau dipengaruhi oleh individu yang memiliki hubungan darah atau perkawinan (keluarga). Namun jika tidak diatur secara efektif, proses pengambilan keputusan justru akan dapat menimbulkan perpecahan antara anggota keluarga yang terlibat. Perbedaan cara pandang dan konflik kepentingan dapat menjadi faktor penyebab keputusan “tidak bulat”. Bagi pihak yang “dikalahkan”, sekecil apapun kegagalan yang terjadi akan menjadi amunisinya untuk menyerang pihak yang berseberangan. Untuk itu, mekanisme pembuatan keputusan (decision-making) dalam perusahaan harus diatur secara efektif agar potensi permasalahan dapat diatasi. Bagaimana dan siapa yang mengambil keputusan harus ditentukan secara sistemik agar keputusan apapun dan bagi siapapun keputusan tersebut dapat diterima dengan baik.

5. Issues Resolution

Dalam Bisnis Keluarga, permasalahan kerap muncul dan tidak bisa dihindari, baik akibat isu bisnis maupun isu keluarga. Permasalahan tersebut, jika tidak segera diatasi, dapat menyebabkan keresahan dan kebingungan di level bawah (karyawan) sehingga berimbas pada penurunan produktivitas secara keseluruhan. Mekanisme penyelesaian masalah (issues resolution) yang efektif dapat menjadi solusi agar isu-isu yang ada dapat diselesaikan dengan baik. Komitmen anggota keluarga terhadap keberhasilan bisnis keluarga di atas kepentingan pribadi perlu dibuat agar masalah-masalah tersebut tidak membesar. Namun permasalah toh masih juga tidak bisa diselesaikan sehingga menyebabkan salah satu anggota keluarga mundur, mekanisme withdrawal (poin 2) juga sudah diatur sehingga perusahaan akan tetap sustain.

Tidak hanya sustain, Bisnis Keluarga diharapkan dapat terus bertumbuh (growth) untuk memaksimalkan value bagi pemiliknya. Untuk itu, beberapa pertanyaan strategic perlu dijawab oleh perusahaan, sebagai berikut:

  1. Bagaimana visi, misi dan nilai-nilai yang efektif disusun untuk mencapai tujuan perusahaan?
  2. Bagaimana strategi perusahaan disusun untuk terus bertumbuh dan memenangkan persaingan?
  3. Bagaimana kegiatan operasional perusahaan (baik kegiatan utama (core) maupun pendukungnya) dirancang secara efektif dan efisien?
  4. Bagaimana kapabilitas dan kompetensi perusahaan dapat terus dikembangkan untuk menciptakan keunggulan bersaing?
  5. Bagaimana budaya yang berkinerja tinggi dapat dibangun dan dilestarikan dalam perusahaan?

 

Banyak Bisnis Keluarga yang “terlanjur” besar namun lupa mengelola elemen “family” dan “ownership”. Ketika permasalahan muncul, mungkin sudah terlambat untuk memperbaikinya sehingga sustainability perusahaan menjadi taruhannya. Perusahaan Keluarga at any size, baik yang start-up maupun well-etablished, harus menerapkan kaedah-kaedah diatas lebih dini agar perusahaan terhindar dari risiko miss-management.

Pembenahan pengelolaan Bisnis Keluarga memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Emotional bonding dan Pride keluarga yang telah berhasil membangun bisnis dari nol kerap kali menjadi trap untuk dapat menjadikan perusahaan lebih baik dan lebih besar. Komitmen dan semangat juang yang kuat untuk men-transform bisnis keluarga niscaya akan membuat bisnis keluarga mampu menghadapi dinamika yang ada dan menjadi larger family-run business.  

 

Remarkable Strategy, Excellent Executions, Great Results…

Roy Nelson Simanjuntak

Business & Management Consultant

rn_simanjuntak@yahoo.com

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s