Business Perspectives

Strategi Bisnis dalam Menghadapi Serbuan Produk Cina

Serbuan produk Cina telah dan akan lebih menghantam bisnis lokal, terutama setelah diberlakukannya perdagangan bebas ASEAN-Cina. Bagaimana perusahaan-perusahaan lokal menyikapi keadaan ini? Apa yang perlu dilakukan untuk memenangkan persaingan atau sekedar bertahan dalam ketatnya kompetisi?

Dalam sepuluh tahun terakhir, Cina bangkit menjadi raksasa ekonomi baru dunia. Berbagai barang produksi Cina, dari jarum, pakaian, sepatu, sampai mesin-mesin canggih, telah membanjiri pusat-pusat perdagangan di Indonesia. Ditambah dengan aturan perdagangan bebas dengan menekan tarif bea masuk sampai nol persen, niscaya akan semakin membuat produk Cina menguasai pasar di Indonesia. Untuk itu, mau-tidak mau, perusahaan-perusahaan lokal harus me-redesign strategi bisnis-nya untuk memenangkan persaingan atau sekedar bertahan terhadap serangan produk Cina.

Perusahaan perlu memperhatikan empat drivers utama (4P) untuk mencapai tujuan secara optimal: Pasar, Pengeluaran, Pekerja, dan Pengetahuan.

Pemahaman yang lebih mendalam terhadap kebutuhan pasar dan respon yang cepat terhadap perubahan pasar akan mampu meningkatkan intimasi terhadap pelanggan (customer intimacy) dan mengikat pelanggan (customer locking) sehingga tidak pindah ke kompetitor. Untuk itu, perlu dilakukan needs-based segmentation dan dibangun innovation engine yang secara sinambung dan efektif menangkap customer needs, mentransformasikan needs tersebut dalam desain produk/servis yang tangguh serta membangun value proposition yang tepat.

Peningkatan efisiensi dan efektifitas biaya (cost) yang komprehesif akan mampu menekan biaya (price) yang perlu ditanggung oleh konsumen sehingga dapat memberikan value yang superior. Secara umum, ada empat level peluang peningkatan efisiensi dan efektifitas biaya (cost) yang dapat dioptimalkan: (1) peningkatan efisiensi dan produktivitas; (2) perbaikan kegiatan/aktivitas penunjang (systemic cost); (3) perbaikan kegiatan/aktivitas produksi (structural cost); (4) pemilihan bisnis apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak (inherent cost).

Pengelolaan pekerja yang optimal akan mampu meningkatkan kinerja organisasi yang tinggi dan profesional. Untuk itu, perusahaan perlu meninjau ulang kebijakan dan strategi pemberdayaan pekerjanya dengan menjawab tiga pertanyaan fundamental: (1) How to find the right people? (2) How to unlock their full potential? (3) How to maintain the right people?

Pengelolaan pengetahuan (knowledge management) yang baik akan memberikan nilai lebih bagi perusahaan (value creation) dan membangun keunggulan bersaing (competitive advantage). Secara umum, ada tiga pilar utama yang penting dalam knowledge management: (1) People, yaitu pekerja yang memiliki best knowledge, (2) Process, yaitu cara pekerja untuk membagikan best knowledgenya; (3) Teknologi, yaitu enabler yang memampukan best knowledge tersebut dapat diutilisasi oleh organisasi.

Welcoming your opinion…

Standard

4 thoughts on “Strategi Bisnis dalam Menghadapi Serbuan Produk Cina

  1. uliel siregar says:

    How about pertimbangan kondisi geografis Cina & Indonesia yang berbeda ? Cina adalah negara Continent, sementara Indonesia negara Archipelago. Negara spt Indonesia membutuhkan Distribution Network yang kuat dan tentu dgn biaya yang besar. Apa produk Cina antisipasi dengan itu ? Atau ini malah bisa jadi kekuatan dalam persaingan produk Indonesia krn kita sudah punya fondasi Jaringan Distribusi yang kuat…

    And how about pertimbangan Brand (image) ?

    Misalnya untuk produk semen. Kita sudah mengenal semen Padang, Gresik dll. Kita sudah kenal betul kualitas produk tsb, apa kita mau berjudi pake produk Cina yg kita belum tau kualitasnya (misalnya) …

    • Dear Ibu Uliel,

      Benar sekali ibu, geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau ditambah dengan kondisi transportasi yang belum memadai memaksa para produsen untuk melakukan distribusi biaya tinggi. Namun demikian, umumnya para produsen menyerahkan hal pendistribusian kepada independent party (distributor), sehingga biaya yang ditanggung oleh produsen Cina atau Indonesia akan sama saja.

      Jadi, pokok permasalahannya di sini justru terletak pada harga pokok produksinya, dimana produk-produk Cina memiliki biaya produksi yang jauh lebih murah dari produk-produk lokal, even setelah ditambah dengan biaya transportasi ke Indonesia. Nah, hal ini yang dikuatirkan para produsen lokal, bahwa produk mereka tidak dapat bersaing lagi nantinya.

      Mengenai brand/image; IMHO, Image merupakan fungsi dari benefit produk (kualitas/biaya) dan persepsi;
      Untuk kualitas yang dimaksud di poin 1: Untuk produk-produk yang memerlukan standar ‘keamanan’ tertentu, memang kualitas produk-produk Cina (untuk sementara ini) belum dapat bersaing. Sebagai contoh, produk semen Cina tidak lolos standar SNI yang menjadi acuan kualitas dari suatu produk semen. Konsumen tentunya tidak akan ‘berjudi’ disini.

      Namun, Kekhawatiran justru dirasakan pada produk-produk yang tidak memerlukan sertifikasi khusus/ impulsive products. Di kategori ini, kualitas terkadang tidak menjadi prioritas utama konsumen, melainkan harga yang murah. Jadi konsumen tidak melakukan ‘judi’ terhadap produk yang dibelinya, melainkan membeli sesuai dengan kantong mereka. Oleh karena diperlukan strategy khusus untuk bisa memenangkan hati konsumen.

      Nah, hal ini erat berhubungan dengan kualitas di poin ke 2. Hal ini merupakan tantangan khusus buat para marketer untuk membentuk persepsi konsumen bahwa produk mereka ‘dipersepsikan’ lebih baik dari produk Cina, supaya konsumen tidak berpindah ‘ke lain hati’. Banyak cara-cara yang bisa dilakukan, mulai dari pemasangan iklan yang bombastis (high cost) hingga ke pendekatan personal (low cost).

      Terimakasih atas sharingnya.

  2. Defri says:

    Secara teoritis apa yg disampaikan, merupakan langkah-langkah normatif yg bisa dilakukan. Tapi prakteknya agak sulit. Contohnya adalah pengelolaan SDM talent employee, biasanya high cost. Apalagi dimana kondisi high cost economi yg terjadi di indonesia saat ini, menyebabkan semakin tingginya biaya yg harus dikeluar. Kalau di dunia riilnya gimana ya ?

    • Pak Defri Yth.,

      Menurut saya, mungkin kata “approaches” akan lebih tepat dibandingkan kata “teoritis” yang disampaikan oleh pak Defri, dan memang saya sengaja melakukan pendekatan secara ‘high level’ di sini karena keadaan dan kebutuhan dari masing-masing perusahaan pastinya akan sangat berbeda.

      Jika kita telaah masing-masing keadaan perusahaan, mungkin akan kita temukan banyak inisiatif-inisiatif perbaikan yang perlu dan dapat dilakukan, mulai dari yang “high cost” hingga yang “low cost”. Tapi hal ini saja tidak cukup untuk menjadi dasar eksekusi inisiatif tersebut. Perusahaan perlu melihat objektif dari insiatif tersebut dan impact-nya bagi perusahaan. Istilahnya, kalo memang terpaksa harus dilakukan, yah mau gak mau harus dilakukan, no matter what! Jadi kuncinya disini adalah bagaimana perusahaan melakukan prioritas inisiatif berdasarkan kapabilitas dan kapasitas perusahaan serta output yang diharapkan dari inisiatif tersebut. Mulailah dengan meng-analisa berdasarkan “approaches” yang telah saya sampaikan. Semoga berhasil!

      Terimakasih atas tanggapannya Pak Defri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s